Dituturkan oleh manajer asal Catalan tersebut bahwa dia melihat para pemain Chelsea dengan postur tinggi menjulang saat sesi latihan pemanasan sebelum berlangsungnya pertandingan. Guardiola merasa terintimidasi saat menyaksikan hal tersebut.

Manajer Manchester City, Pep Guardiola, kembali berbicara mengenai kekalahan yang ditelan tim arahannya dalam lanjutan Liga Primer Inggris tengah pekan kemarin. Diakui oleh sang manajer bahwa dia memang terintimidasi oleh para pemain The Blues dalam laga tersebut.

Sebagaimana diketahui, Citizen bertandang ke Stamford Bridge Stadium untuk menjalani matchdays ke-31 tengah pekan kemarin. Dalam pertandingan tersebut, Manchester City dipastikan kehilangan tiga poin setelah Eden Hazard mencetak dua gol, sedangkan mereka hanya mampu membalas lewat satu gol saja.

Kekalahan itu rupanya masih menghantui manajer Pep Guardiola, dia bahkan menilai bahwa dirinya sendiri merasa terintimidasi saat menyaksikan para pemain Chelsea berlatih di pinggir lapangan sebelum laga berlangsung. Hal tersebut sempat membuat Pep merasa kesulitan menemukan solusi bagi timnya untuk melewati hadangan para pemain The Blues.

"Sebenarya saya pribadi tidak suka tim saya bermain reaktif, saya lebih suka dengan tim yang pro aktif . Saya senang memainkan peran utama di sebuah pertandingan dan kami melakukannya. Saat mereka menguasai bola, maka kami berusaha untuk merebutnya kembali, ya, kami mencoba hal tersebut."

"Namun tentu saja hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan, ketika kami melihat sesi latihan sebelum pertandingan, saya melihat para pemain Chelsea, , mereka semua bertinggi dua meter, kuat, cepat. Ada sebelas pemain di sana, amat sulit untuk mencari solusi, namun kami tetap berusaha melakukan hal tersebut." tutur mantan manajer Barcelona di Metro.

Hal tersebut dituturkan oleh manajer Diego Simeone, dimana meskipun tim asuhannya akan bermain di Markas lawan, berhadapan dengan tim terbaik dunia terutama saat bermain di kandang sendiri, Atletico Madrid harus tetap percaya diri jika ingin segala sesuatunya berjalan dengan baik.

Atletico Madrid akan memperjuangkan satu tempat mereka di final Copa Del Rey musim ini meski telah kalah pada partai leg pertama semifinal melawan Barcelona. Bertandang ke Camp Nou pada leg kedua tengah pekan ini, Los Rojiblancos dinilai harus percaya terhadap kualitas mereka sendiri.

Sebagaimana diketahui, partai leg pertama kompetisi Piala Raja ini memang telah berlangsung sepekan yang lalu di Estadio Vicente Calderon yang merupakan markas dari Atletico Madrid. Bermain di kandang sendiri, Atletico Madrid justru pada akhirnya telan kekalahan tipis 1-2 dari Raksasa Catalan, hal ini semakin menipiskan peluang mereka untuk melangkah ke Final.

Kendati demikian, Pelatih Diego Simeone merasa bahwa masih ada harapan untuk Griezmann Cs memenangkan pertandingan tersebut dan melangkah ke babak final. Kuncinya adalah percaya terhadap diri sendiri jika memang ingin segala sesuatunya berjalan dengan baik di Camp Nou nanti.

“Memang, sangat mudah untuk berbicara, namun faktanya, hal yang berpengaruh adalah performa yang kami tunjukkan di atas lapangan. Kami harus tetap mampu bermain dengan intensitas yang sama dengan saat kami bermain dengan performa terbaik musim ini, berusaha untuk merasa nyaman dengan diri sendiri sebagai tim. Dengan demikian, apa yang kami inginkan bakal terjadi”

"Kami menghadapi tim yang sangat kuat di kandang, jadi ini akan jadi laga yang sulit. Mereka mungkin adalah tim terbaik di dunia. Tapi apa pun yang saya katakan saat ini tidak berpengaruh banyak. Semua tergantung pada apa yang terjadi di atas lapangan. Hasil yang bisa membuat saya puas hanyalah lolos ke final." Demikian ujar Sang Entrenador kepada Reporter.

Setelah sebelumnya menyindir gaya bermain Liverpool yang dianggapnya lebih sering bertahan, kini pelatih asal Portugal mengkritik seni bertahan Chelsea dibawah arahan manajer Anyar Antonio Conte. Padahal, dulunya Mourinho sendiri menerapkan taktik bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik.

Manajer Manchester United, Jose Mourinho, memulai PSY war dengan melempar kritik cara bermain pada manajer klub rivalnya. Setelah Jurgen Klopp, yang merupakan manajer Liverpool, kini giliran juru taktik Chelsea, Antonio Conte, yang mendapat sindiran.

Sebagaimana diketahui, Chelsea arahan Antonio Conte sempat memainkan sistem yang tak jauh berbeda dengan tim-tim Premier League yang lain di awal musim ini, namun setelah taktik itu tak berjalan dengan baik, manajer asal Italia kemudian menerapkan taktik dengan tiga bek, sama seperti yang dia lakukan di Juventus. Dengan taktik tersebut, Chelsea bermain lebih bertahan dengan mengandalkan serangan balik.

Beberapa pihak menyambut positif taktik tersebut karena Chelsea berhasil memuncakki klasemen sementara dengan sembilan poin di atas para rival terdekatnya. Namun, pelatih Manchester United, Jose Mourinho, tak serta merta menyambuntnya sebagai hal yang positif. Manajer asal Portugal justru menyindir gaya bermain Chelsea yang menurutnya bertentangan dengan gaya bermain sepakbola Inggris.

"Tim asuhan saya bermain dengan cara yang sangat bagus. Namun segalanya mulai berbeda sekarang, Ketika dahulu saya -- yang memenangkan tiga gelar Liga Primer Inggris -- membuat tim saya tampil tajam juga kukuh di pertahanan, banyak sekali kritik yang menyebut itu tak cukup."

"Sepertinya, musim ini, pertahanan fenomenal dan permainan bertahan adalah seni. Jadi kesimpulannya ada perubahan besar di Inggris. Namun saya tidak ingin mengubah cara kami bermain," Demikian ujar Mou seperti dikutip ESPN FC.

Hal tersebut dituturkan oleh salah seorang penggawa Bianconneri, Miralem Pjanic, yang merasa bahwa Juventus saat ini tengah berada dalam performa terbaik. Namun, klub tak boleh terlena akan situasi tersebut, karena bukan tidak mungkin bakal dimanfaatkan oleh para rival terdekat.

Juventus semakin berjaya di puncak klasemen sementara Serie A Italia dengan keunggulan enam poin atas Napoli yang berada di peringkat kedua, dan memiliki satu pertandingan yang belum dimainkan. Hal tersebutpun diakui karena memang Bianconneri saat ini tengah berada dalam performa terbaiknya.

Sebagaimana diketahui, Musim ini, Juventus tampil cukup gemilang setelah sempat meragukan di awal . Sejumlah pertandingan berhasil mereka menangkan secara berutun, terakhir saat berhadapan dengan Inter Milan di J Stadium yang berkesudahan dengan skor tipis 1-0. Kemenangan demi kemenangan ini membuat Bianconneri kian dekat untuk mempertahankan Scudetto ke-enam secara beruntun dalam enam musim terakhir.

Terkait dengan hal tersebut, gelandang anyar Bianconneri, Miralem Pjanic, mengakui bahwa klub memang tengah berada dalam performa terbaiknya, namun gelandang Bosnia-Herzegovina itu melarang rekan-rekannya untuk terlena.

”Sepertinya kami memang tengah berada dalam bentuk terbaik saat ini, kami memainkan sepakbola yang bagus dan sama baiknya dalam hal mencetak gol serta menggagalkan gol lawan. Inter menghadirkan kesulitan bagi kami, namun performa kami di kandang sendiri selalu menjadi patokan”

”Kami karang membiarkan situasi terpeleset datang dan anda sudah melihatnya sendiri dalam laga kemarin. Skuat yang kami punya memiliki kedalaman yang bagus, dibungkus dengan kualitas, Saat anda punya kekuatan dengan kedalaman seperti ini, maka akan memudahkan pelatih untuk menentukan tim utama, siapapun lawan yang akan dihadapi”

”Yang paling utama adalah bagian dari kampanye kami musim ini baru saja dimulai, dan kami harus tetap yakin bahwa kami siap menyelesaikannya, semakin jauh, semakin kecil kesalahan yang muncul, dan harus diingat, tim-tim di belakang masih belum menyerah, jadi kami tak boleh terlena” Ujar Eks Roma kepada reporter.